Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib
as. :
Seorang Yahudi mendatangi
Nabi Muhammad SAW. Pada saat
itu Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi
Muhammad SAW : “apa faedah
dari huruf hijaiyah ?”
Rasulullah SAW lalu berkata
kepada Ali bin Abi Thalib as,
Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan
Ali, “ya Allah, sukseskan Ali
dan bungkam orang Yahudi
itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada
satu huruf-pun kecuali semua
bersumber pada nama-nama
Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :
. “Adapun alif artinya tidak ada
Tuhan selain Dia yang Maha
Hidup dan Kokoh.
. Adapun ba artinya tetap ada
setelah musnah seluruh
makhluk-Nya.
. Adapun ta, artinya yang maha
menerima taubat, menerima
taubat dari semua hamba-Nya.
. Adapun tsa artinya adalah yang
mengokohkan semua makhluk
“Dialah yang mengokohkan
orang-orang beriman dengan
perkataan yang kokoh dalam
kehidupan dunia”.
. Adapun jim maksudnya adalah
keluhuran sebutan dan pujian-
Nya serta suci seluruh nama-
nama-Nya.
. Adapun ha adalah Al Haq, Maha
hidup dan penyayang.
. Kha maksudnya adalah maha
mengetahui akan seluruh
perbuatan hamba-hamba-Nya.
. Dal artinya pemberi balasan
pada hari kiamat.
. Dzal artinya pemilik segala
keagungan dan kemuliaan.
. Ra artinya lemah lembut
terhadap hamba-hamba-Nya.
. Za’ artinya hiasan
penghambaan.
. Sin artinya Maha mendengar
dan melihat. Syin artinya yang
disyukuri oleh hamba-Nya.
. Shad maksudnya adalah Maha
benar dalam setiap janji-Nya.
. Dhad artinya adalah yang
memberikan madharat dan
manfaat.
. Tha artinya Yang suci dan
mensucikan.
. Dzha artinya Yang maha
nampak dan menampakan
seluruh tanda-anda.
. Ayn artinya Maha mengetahui
hamba-hamba-Nya.
. Ghayn artinya tempat
mengharap para pengharap dari
semua ciptaan-Nya.
. Fa artinya yang menumbuhkan
biji-bijian dan tumbuhan.
. Qaf artinya adalah Maha kuasa
atas segala makhluk-Nya.
. Kaf artinya yang Maha
mencukupkan yang tidak ada
satupun yang setara dengan-
Nya, Dia tidak beranak dan tidak
diperanakan.
. Adapun lam maksudnya adalah
maha lembut terhadap hamba-
nya.
. Mim artinya pemilik semua
kerajaan.
. Nun maksudnya adalah cahaya
bagi langit yang bersumber pada
cahaya arasynya.
. Adapun waw artinya adalah,
satu, esa, tempat bergantung
semua makhluk dan tidak
beranak serta diperanakan.
. Ha artinya Memberi petunjuk
bagi makhluk-Nya.
. Lam alif artinya tidak ada tuhan
selain Allah, satu-satunya serta
tidak ada sekutu bagi-Nya.
. Adapun ya artinya tangan Allah
yang terbuka bagi seluruh
makhluk-Nya”.
Rasulullah lalu berkata “Inilah
perkataan dari orang yang telah
diridhai Allah dari semua
makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka
yahudi itu masuk Islam.
thebest
tak mungkin org menjadi baik klau blum pernah berbuat salah...
Sabtu, 20 Agustus 2011
Mencintai dan MengagungkanSunnah Nabi
Sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, yang berarti
segala sesuatu yang bersumber
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, baik ucapan, perbuatan
maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat
agung dalam Islam, karena Allah
Ta’ala menjadikan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai penjelas dan
penjabar dari Al Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber
utama syariat Islam. Oleh karena
itu, tanpa memahami sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan baik, seseorang
tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar. Allah Ta’ala berfirman, َﻚْﻴَﻟِﺇ ﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃَﻭ َﻦِّﻴَﺒُﺘِﻟ َﺮْﻛِّﺬﻟﺍ َﻝِّﺰُﻧ ﺎَﻣ ِﺱﺎَّﻨﻠِﻟ ْﻢُﻬَّﻠَﻌَﻟَﻭ ْﻢِﻬْﻴَﻟِﺇ َﻥﻭُﺮَّﻜَﻔَﺘَﻳ “Dan Kami turunkan kepadamu
al-Qur’an, agar kamu
menerangkan kepada manusia apa
yang telah diturunkan kepada
mereka (dari Allah Ta’ala),
supaya mereka memikirkan.” (Qs. An Nahl: 44) Ketika Ummul mu’minin
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
ditanya tentang ahlak (tingkah
laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, beliau menjawab,
“Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah Al Qur’an.” (HSR Muslim
no. 746). Ini berarti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling
sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an,
menegakkan hukum-hukumnya
dan menghiasi diri dengan adab-
adabnya. (Lihat keterangan imam
an-Nawawi dalam kitab Syarh
Shahih Muslim 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam
memahami dan mengamalkan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dialah yang
paling sempurna dalam berpegang
teguh dan mengamalkan Al Qur’an dan agama Islam secara
keseluruhan. Imam Ahmad bin Hambal –semoga
Allah Ta’ala merahmatinya–
berkata, “(Termasuk) landasan
(utama) sunnah (syariat Islam)
menurut (pandangan) kami (Ahlus
Sunnah wal Jama’ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah penafsir dan argumentasi
(yang menjelaskan makna) al-
Qur’an.” (Ushuulus Sunnah, hal.
3) Oleh karena itulah, para ulama
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
mendefinisikan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai sesuatu yang mencakup
syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun
keyakinan. (Lihat Jaami’ul Uluumi
wal Hikam, hal. 321) Imam Abu Muhammad al-
Barbahari berkata, “Ketahuilah,
bahwa Islam itu adalah sunnah dan
sunnah itu dialah Islam, yang
masing-masing dari keduanya
tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.” (Syarhus Sunnah, hal.
59) Arti Mencintai dan
Mengagungkan Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang Sebenarnya Allah ‘azza wa jalla berfirman, َﻥﻮُّﺒِﺤُﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْﻥِﺇ ْﻞُﻗ ﻲِﻧﻮُﻌِﺒَّﺗﺎَﻓ َﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ْﻢُﻜَﻟ ْﺮِﻔْﻐَﻳَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ْﻢُﻜَﺑﻮُﻧُﺫ ٌﻢﻴِﺣَﺭ ٌﺭﻮُﻔَﻏ “Katakanlah: Jika kamu (benar-
benar) mencintai Allah, maka
ikutilah (sunnah/petunjuk)ku,
niscaya Allah mencintaimu dan
mengampuni dosa-dosamu, Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31) Imam Ibnu Katsir, ketika
menafsirkan ayat ini berkata,
“Ayat yang mulia ini merupakan
hakim (pemutus perkara) bagi
setiap orang yang mengaku
mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka dia adalah orang
yang berdusta dalam pengakuan
tersebut dalam masalah ini, sampai
dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam semua ucapan,
perbuatan dan
keadaannya.” (Tafsir Ibnu Katsir,
1/477) Imam Al Qadhi ‘Iyadh Al
Yahshubi berkata, “Ketahuilah
bahwa barangsiapa yang mencintai
sesuatu, maka dia akan
mengutamakannya dan berusaha
meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak
dianggap benar dalam kecintaanya
dan hanya mengaku-aku (tanpa
bukti nyata). Maka orang yang
benar dalam (pengakuan)
mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika
terlihat tanda (bukti) kecintaan
tersebut pada dirinya. Tanda
(bukti) cinta kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, mengamalkan
sunnahnya, mengikuti semua
ucapan dan perbuatannya,
melaksanakan segala perintah dan
menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab
(etika) yang beliau (contohkan),
dalam keadaan susah maupun
senang dan lapang maupun
sempit.” (Asy Syifa bi Ta’riifi
Huquuqil Mushthafa, 2/24) Berdasarkan keterangan di atas,
jelaslah bahwa mencintai dan
mengagungkan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sebenarnya adalah dengan
meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dengan berusaha
mempelajari dan mengamalkannya
dengan baik. Dan bukanlah
mencintai dan mengagungkan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
melakukan perbuatan-perbuatan
bid’ah (yaitu setiap perbuatan
yang diada-adakan dengan tujuan
untuk mendekatkan diri kepada
Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, pen) dengan
mengatasnamakan cinta kepada
beliau, atau memuji dan mensifati
beliau secara berlebihan, dengan
menempatkan beliau melebihi kedudukan yang telah Allah
Ta’ala tempatkan beliau
padanya. (Mahabbatur Rasul
bainal Ittibaa’ wal Ibtidaa’, hal.
65-71) Dalam sebuah hadits shahih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah
kalian memuji diriku secara
berlebihan dan melampaui batas,
sebagaimana orang-orang Nashrani melampaui batas dalam
memuji (Nabi Isa) bin Maryam,
karena sesungguhnya aku
hanyalah seorang hamba Allah,
maka katakanlah: hamba Allah dan
Rasul-Nya.” (HSR Al Bukhari no. 3261) Inilah makna cinta kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang dipahami dan
diamalkan oleh generasi terbaik
umat ini, para sahabat
radhiyallahu ‘anhum. Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu berkata, “Tidak ada
seorang pun yang paling dicintai
oleh para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi jika mereka
melihat beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam, mereka tidak berdiri
(untuk menghormati beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam),
karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam membenci perbuatan
tersebut.” (HR At Tirmidzi 5/90
dan Ahmad 3/132, dinyatakan
shahih oleh At Tirmidzi dan Syaikh
Al Albani) Bagaimana Menyempurnakan
Cinta kepada Sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dalam Diri Kita? Imam Ibnu Rajab Al Hambali
membagi derajat (tingakatan) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dua
tingakatan, yang berarti dengan
menyempurnakan dua tingkatan
ini seorang akan memiliki
kecintaan yang sempurna kepada
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini
merupakan tanda kesempurnaan
iman dalam dirinya. Dua tingkatan tersebut adalah: 1. Tingkatan yang fardhu (wajib),
yaitu kecintaan (kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam)
yang mengandung konsekuensi
menerima dan mengambil semua
petunjuk yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari
sisi Allah dengan (penuh rasa)
cinta, ridha, hormat dan patuh,
serta tidak mencari petunjuk dari
selain jalan (sunnah) beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh. Kemudian mengikuti
dengan baik agama yang beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sampaikan dari Allah, dengan
membenarkan semua berita yang
beliau sampaikan, mantaati semua kewajiban yang beliau
perintahkan, meninggalkan semua
perbuatan haram yang
dilarangnya, serta menolong dan
berjihad (membela) agamanya,
sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang
menentangnya. Tingkatan ini harus
dipenuhi (oleh setiap muslim) dan
tanpanya keimanan (seseorang)
tidak akan sempurna. 2. Tingkatan fadhl (keutamaan/
kemuliaan), yaitu kecintaan
(kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam) yang
mengandung konsekuensi
meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik,
mengikuti sunnah beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan benar, dalam tingkah laku,
adab (etika), ibadah-ibadah sunnah
(anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan
keluarga, serta semua adab beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sempurna dan akhlak beliau yang
suci. Demikian juga memberikan
perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan
hidup beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam, rasa senang dalam hati
dengan mencintai, mengagungkan
dan memuliakan beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, senang mendengarkan ucapan (hadits)
beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan selalu (mendahulukan)
ucapan beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam di atas ucapan selain
beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah
meneladani beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sikap
zuhud terhadap dunia,
mencukupkan diri dengan hidup
seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada (balasan
yang sempurna) di akhirat
(kelak)” (Istinyaaqu Nasiimil Unsi
min Nafahaati Riyaadhil Qudsi, hal.
34-35) Keutamaan Mengikuti Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam Allah Ta’ala berfirman, ﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻤِﻟ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ َﻪَّﻠﻟﺍ ﻮُﺟْﺮَﻳ َﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴْﻟﺍَﻭ ﺍًﺮﻴِﺜَﻛ َﻪَّﻠﻟﺍ َﺮَﻛَﺫَﻭ “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah
dan (balasan kebaikan pada) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21) Ayat yang mulia ini menunjukkan
kemuliaan dan keutamaan besar
mengikuti sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
karena Allah Ta’ala sendiri yang
menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai “teladan yang
baik”, yang ini menunjukkan
bahwa orang yang meneladani
sunnah beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal
mustaqim (jalan yang lurus) yang
akan membawanya mendapatkan
kemuliaan dan rahmat Allah
Ta’ala. (Lihat keterangan Syaikh
‘Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481) Ketika menafsirkan ayat ini, Imam
Ibnu Katsir berkata, “Ayat yang
mulia ini merupakan landasan
yang agung dalam meneladani
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/626) Kemudian firman Allah Ta’ala di
akhir ayat ini mengisyaratkan satu
faidah yang penting untuk
direnungkan, yaitu keterikatan
antara meneladani sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman
kepada Allah dan hari akhir, yang
ini berarti bahwa semangat dan
kesungguhan seorang muslim
untuk meneladani sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pertanda
kesempurnaan imannya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di
ketika menjelaskan makna ayat di
atas, beliau berkata, “Teladan
yang baik (pada diri Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini,
yang akan mendapatkan taufik (dari Allah Ta’ala) untuk
mengikutinya hanyalah orang-
orang yang mengharapkan
(rahmat) Allah dan (balasan
kebaikan) di hari akhir. Karena
(kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan
balasan kebaikan dan ketakutan
akan siksaan Allah, inilah yang
memotivasi seseorang untuk
meneladani (sunnah) Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Penutup Dari keterangan di atas, jelaslah
bagi kita makna mencintai sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang sebenarnya, dan
jelaslah besarnya keutamaan dan
kemuliaan mengikuti sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Maka mestinya, seorang muslim
yang mengaku mencintai Rasululah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
terlebih lagi yang mengaku
sebagai ahlus sunnah wal
jama’ah, adalah orang yang paling semangat dalam
mempelajari dan menerapkan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sikap dan
tingkah lakunya. Khususnya, di
zaman sekarang ketika sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjadi asing dan jarang
diamalkan di tengah-tengah kaum
muslimin sendiri. Karena seorang
muslim yang mengamalkan satu
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah
dilupakan, dia akan mendapatkan
dua keutamaan (pahala) sekaligus,
yaitu keutamaan mengamalkan
sunnah itu sendiri dan keutamaan
menghidupkannya di tengah- tengah manusia yang telah
melupakannya. Syaikh Muhammad bih Sholeh Al
‘Utsaimin berkata,
“Sesungguhnya sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam jika semakin dilupakan,
maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan
kuat (besar), karena (orang yang
mengamalkannya) akan
mendapatkan keutamaan
mengamalkan (sunnah itu sendiri)
dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah di
kalangan manusia.” (Manaasikul
Hajji wal ‘Umrah, hal. 92) Sebagai penutup, marilah kita
camkan bersama nasehat imam Al
Khatiib Al Baghdadi dalam kitab
beliau Al Jaami’ li Akhlaaqir
Raawi wa Aadaabis
Saami’ (1/215) berikut ini: “Seyogyanya para penuntut ilmu
hadits (pengikut manhaj Ahlus
Sunnah wal Jama’ah), berusaha
untuk membedakan dirinya dari
kebiasaan orang-orang awam
dalam semua urusan tingkah laku dan sikapnya, dengan berusaha
mengamalkan petunjuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
semaksimal mungkin, dan
membiasakan dirinya
mengamalkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, karena sesungguhnya Allah
Ta’ala berfirman, ﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu.” (Qs. Al
Ahzaab: 21)” ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻﻭ ﺎﻨﻴﺒﻧ ﻰﻠﻋ ﻙﺭﺎﺑﻭ
ﻪﺒﺤﺻﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﺪﻤﺤﻣ ﻦﻴﻌﻤﺟﺃ ، ﺮﺧﺁﻭ ﺪﻤﺤﻟﺍ ﻥﺃ ﺎﻧﺍﻮﻋﺩ
ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟﺍ ﺏﺭ ﻪﻠﻟ Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, 15 Jumadal ula 1430 H Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim
Al Buthoni, Lc.
Artikel www.muslim.or.id Anda diperkenankan untuk
menyebarkan, re-publikasi, copy-
paste atau mencetak artikel yang
ada di muslim.or.id dengan
menyertakan muslim.or.id sebagai
sumber artikel
‘alaihi wa sallam, yang berarti
segala sesuatu yang bersumber
dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, baik ucapan, perbuatan
maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat
agung dalam Islam, karena Allah
Ta’ala menjadikan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai penjelas dan
penjabar dari Al Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber
utama syariat Islam. Oleh karena
itu, tanpa memahami sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan baik, seseorang
tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar. Allah Ta’ala berfirman, َﻚْﻴَﻟِﺇ ﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃَﻭ َﻦِّﻴَﺒُﺘِﻟ َﺮْﻛِّﺬﻟﺍ َﻝِّﺰُﻧ ﺎَﻣ ِﺱﺎَّﻨﻠِﻟ ْﻢُﻬَّﻠَﻌَﻟَﻭ ْﻢِﻬْﻴَﻟِﺇ َﻥﻭُﺮَّﻜَﻔَﺘَﻳ “Dan Kami turunkan kepadamu
al-Qur’an, agar kamu
menerangkan kepada manusia apa
yang telah diturunkan kepada
mereka (dari Allah Ta’ala),
supaya mereka memikirkan.” (Qs. An Nahl: 44) Ketika Ummul mu’minin
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
ditanya tentang ahlak (tingkah
laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, beliau menjawab,
“Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah Al Qur’an.” (HSR Muslim
no. 746). Ini berarti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling
sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an,
menegakkan hukum-hukumnya
dan menghiasi diri dengan adab-
adabnya. (Lihat keterangan imam
an-Nawawi dalam kitab Syarh
Shahih Muslim 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam
memahami dan mengamalkan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dialah yang
paling sempurna dalam berpegang
teguh dan mengamalkan Al Qur’an dan agama Islam secara
keseluruhan. Imam Ahmad bin Hambal –semoga
Allah Ta’ala merahmatinya–
berkata, “(Termasuk) landasan
(utama) sunnah (syariat Islam)
menurut (pandangan) kami (Ahlus
Sunnah wal Jama’ah) adalah: bahwa sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah penafsir dan argumentasi
(yang menjelaskan makna) al-
Qur’an.” (Ushuulus Sunnah, hal.
3) Oleh karena itulah, para ulama
Ahlus Sunnah wal Jama’ah
mendefinisikan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai sesuatu yang mencakup
syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun
keyakinan. (Lihat Jaami’ul Uluumi
wal Hikam, hal. 321) Imam Abu Muhammad al-
Barbahari berkata, “Ketahuilah,
bahwa Islam itu adalah sunnah dan
sunnah itu dialah Islam, yang
masing-masing dari keduanya
tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.” (Syarhus Sunnah, hal.
59) Arti Mencintai dan
Mengagungkan Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang Sebenarnya Allah ‘azza wa jalla berfirman, َﻥﻮُّﺒِﺤُﺗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْﻥِﺇ ْﻞُﻗ ﻲِﻧﻮُﻌِﺒَّﺗﺎَﻓ َﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ْﻢُﻜَﻟ ْﺮِﻔْﻐَﻳَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ْﻢُﻜَﺑﻮُﻧُﺫ ٌﻢﻴِﺣَﺭ ٌﺭﻮُﻔَﻏ “Katakanlah: Jika kamu (benar-
benar) mencintai Allah, maka
ikutilah (sunnah/petunjuk)ku,
niscaya Allah mencintaimu dan
mengampuni dosa-dosamu, Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31) Imam Ibnu Katsir, ketika
menafsirkan ayat ini berkata,
“Ayat yang mulia ini merupakan
hakim (pemutus perkara) bagi
setiap orang yang mengaku
mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka dia adalah orang
yang berdusta dalam pengakuan
tersebut dalam masalah ini, sampai
dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam semua ucapan,
perbuatan dan
keadaannya.” (Tafsir Ibnu Katsir,
1/477) Imam Al Qadhi ‘Iyadh Al
Yahshubi berkata, “Ketahuilah
bahwa barangsiapa yang mencintai
sesuatu, maka dia akan
mengutamakannya dan berusaha
meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak
dianggap benar dalam kecintaanya
dan hanya mengaku-aku (tanpa
bukti nyata). Maka orang yang
benar dalam (pengakuan)
mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika
terlihat tanda (bukti) kecintaan
tersebut pada dirinya. Tanda
(bukti) cinta kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, mengamalkan
sunnahnya, mengikuti semua
ucapan dan perbuatannya,
melaksanakan segala perintah dan
menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab
(etika) yang beliau (contohkan),
dalam keadaan susah maupun
senang dan lapang maupun
sempit.” (Asy Syifa bi Ta’riifi
Huquuqil Mushthafa, 2/24) Berdasarkan keterangan di atas,
jelaslah bahwa mencintai dan
mengagungkan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sebenarnya adalah dengan
meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dengan berusaha
mempelajari dan mengamalkannya
dengan baik. Dan bukanlah
mencintai dan mengagungkan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
melakukan perbuatan-perbuatan
bid’ah (yaitu setiap perbuatan
yang diada-adakan dengan tujuan
untuk mendekatkan diri kepada
Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, pen) dengan
mengatasnamakan cinta kepada
beliau, atau memuji dan mensifati
beliau secara berlebihan, dengan
menempatkan beliau melebihi kedudukan yang telah Allah
Ta’ala tempatkan beliau
padanya. (Mahabbatur Rasul
bainal Ittibaa’ wal Ibtidaa’, hal.
65-71) Dalam sebuah hadits shahih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah
kalian memuji diriku secara
berlebihan dan melampaui batas,
sebagaimana orang-orang Nashrani melampaui batas dalam
memuji (Nabi Isa) bin Maryam,
karena sesungguhnya aku
hanyalah seorang hamba Allah,
maka katakanlah: hamba Allah dan
Rasul-Nya.” (HSR Al Bukhari no. 3261) Inilah makna cinta kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang dipahami dan
diamalkan oleh generasi terbaik
umat ini, para sahabat
radhiyallahu ‘anhum. Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu berkata, “Tidak ada
seorang pun yang paling dicintai
oleh para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi jika mereka
melihat beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam, mereka tidak berdiri
(untuk menghormati beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam),
karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam membenci perbuatan
tersebut.” (HR At Tirmidzi 5/90
dan Ahmad 3/132, dinyatakan
shahih oleh At Tirmidzi dan Syaikh
Al Albani) Bagaimana Menyempurnakan
Cinta kepada Sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dalam Diri Kita? Imam Ibnu Rajab Al Hambali
membagi derajat (tingakatan) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dua
tingakatan, yang berarti dengan
menyempurnakan dua tingkatan
ini seorang akan memiliki
kecintaan yang sempurna kepada
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini
merupakan tanda kesempurnaan
iman dalam dirinya. Dua tingkatan tersebut adalah: 1. Tingkatan yang fardhu (wajib),
yaitu kecintaan (kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam)
yang mengandung konsekuensi
menerima dan mengambil semua
petunjuk yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari
sisi Allah dengan (penuh rasa)
cinta, ridha, hormat dan patuh,
serta tidak mencari petunjuk dari
selain jalan (sunnah) beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh. Kemudian mengikuti
dengan baik agama yang beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
sampaikan dari Allah, dengan
membenarkan semua berita yang
beliau sampaikan, mantaati semua kewajiban yang beliau
perintahkan, meninggalkan semua
perbuatan haram yang
dilarangnya, serta menolong dan
berjihad (membela) agamanya,
sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang
menentangnya. Tingkatan ini harus
dipenuhi (oleh setiap muslim) dan
tanpanya keimanan (seseorang)
tidak akan sempurna. 2. Tingkatan fadhl (keutamaan/
kemuliaan), yaitu kecintaan
(kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam) yang
mengandung konsekuensi
meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik,
mengikuti sunnah beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dengan benar, dalam tingkah laku,
adab (etika), ibadah-ibadah sunnah
(anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan
keluarga, serta semua adab beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sempurna dan akhlak beliau yang
suci. Demikian juga memberikan
perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan
hidup beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam, rasa senang dalam hati
dengan mencintai, mengagungkan
dan memuliakan beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, senang mendengarkan ucapan (hadits)
beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan selalu (mendahulukan)
ucapan beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam di atas ucapan selain
beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah
meneladani beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sikap
zuhud terhadap dunia,
mencukupkan diri dengan hidup
seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada (balasan
yang sempurna) di akhirat
(kelak)” (Istinyaaqu Nasiimil Unsi
min Nafahaati Riyaadhil Qudsi, hal.
34-35) Keutamaan Mengikuti Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam Allah Ta’ala berfirman, ﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻤِﻟ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ َﻪَّﻠﻟﺍ ﻮُﺟْﺮَﻳ َﺮِﺧَﺂْﻟﺍ َﻡْﻮَﻴْﻟﺍَﻭ ﺍًﺮﻴِﺜَﻛ َﻪَّﻠﻟﺍ َﺮَﻛَﺫَﻭ “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah
dan (balasan kebaikan pada) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21) Ayat yang mulia ini menunjukkan
kemuliaan dan keutamaan besar
mengikuti sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
karena Allah Ta’ala sendiri yang
menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai “teladan yang
baik”, yang ini menunjukkan
bahwa orang yang meneladani
sunnah beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal
mustaqim (jalan yang lurus) yang
akan membawanya mendapatkan
kemuliaan dan rahmat Allah
Ta’ala. (Lihat keterangan Syaikh
‘Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, hal. 481) Ketika menafsirkan ayat ini, Imam
Ibnu Katsir berkata, “Ayat yang
mulia ini merupakan landasan
yang agung dalam meneladani
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau
shallallahu ‘alaihi wa
sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/626) Kemudian firman Allah Ta’ala di
akhir ayat ini mengisyaratkan satu
faidah yang penting untuk
direnungkan, yaitu keterikatan
antara meneladani sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman
kepada Allah dan hari akhir, yang
ini berarti bahwa semangat dan
kesungguhan seorang muslim
untuk meneladani sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pertanda
kesempurnaan imannya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di
ketika menjelaskan makna ayat di
atas, beliau berkata, “Teladan
yang baik (pada diri Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini,
yang akan mendapatkan taufik (dari Allah Ta’ala) untuk
mengikutinya hanyalah orang-
orang yang mengharapkan
(rahmat) Allah dan (balasan
kebaikan) di hari akhir. Karena
(kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan
balasan kebaikan dan ketakutan
akan siksaan Allah, inilah yang
memotivasi seseorang untuk
meneladani (sunnah) Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Penutup Dari keterangan di atas, jelaslah
bagi kita makna mencintai sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang sebenarnya, dan
jelaslah besarnya keutamaan dan
kemuliaan mengikuti sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Maka mestinya, seorang muslim
yang mengaku mencintai Rasululah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
terlebih lagi yang mengaku
sebagai ahlus sunnah wal
jama’ah, adalah orang yang paling semangat dalam
mempelajari dan menerapkan
sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sikap dan
tingkah lakunya. Khususnya, di
zaman sekarang ketika sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjadi asing dan jarang
diamalkan di tengah-tengah kaum
muslimin sendiri. Karena seorang
muslim yang mengamalkan satu
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah
dilupakan, dia akan mendapatkan
dua keutamaan (pahala) sekaligus,
yaitu keutamaan mengamalkan
sunnah itu sendiri dan keutamaan
menghidupkannya di tengah- tengah manusia yang telah
melupakannya. Syaikh Muhammad bih Sholeh Al
‘Utsaimin berkata,
“Sesungguhnya sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam jika semakin dilupakan,
maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan
kuat (besar), karena (orang yang
mengamalkannya) akan
mendapatkan keutamaan
mengamalkan (sunnah itu sendiri)
dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah di
kalangan manusia.” (Manaasikul
Hajji wal ‘Umrah, hal. 92) Sebagai penutup, marilah kita
camkan bersama nasehat imam Al
Khatiib Al Baghdadi dalam kitab
beliau Al Jaami’ li Akhlaaqir
Raawi wa Aadaabis
Saami’ (1/215) berikut ini: “Seyogyanya para penuntut ilmu
hadits (pengikut manhaj Ahlus
Sunnah wal Jama’ah), berusaha
untuk membedakan dirinya dari
kebiasaan orang-orang awam
dalam semua urusan tingkah laku dan sikapnya, dengan berusaha
mengamalkan petunjuk Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
semaksimal mungkin, dan
membiasakan dirinya
mengamalkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, karena sesungguhnya Allah
Ta’ala berfirman, ﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﺪَﻘَﻟ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu.” (Qs. Al
Ahzaab: 21)” ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻﻭ ﺎﻨﻴﺒﻧ ﻰﻠﻋ ﻙﺭﺎﺑﻭ
ﻪﺒﺤﺻﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﺪﻤﺤﻣ ﻦﻴﻌﻤﺟﺃ ، ﺮﺧﺁﻭ ﺪﻤﺤﻟﺍ ﻥﺃ ﺎﻧﺍﻮﻋﺩ
ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟﺍ ﺏﺭ ﻪﻠﻟ Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, 15 Jumadal ula 1430 H Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim
Al Buthoni, Lc.
Artikel www.muslim.or.id Anda diperkenankan untuk
menyebarkan, re-publikasi, copy-
paste atau mencetak artikel yang
ada di muslim.or.id dengan
menyertakan muslim.or.id sebagai
sumber artikel
dimana ruh kita???
Ketika Ruh kita
dicabut...........!!!!!!!! Bagi Ruh orang beriman akan
disampaikan......."Sesungguhnya
orang - orang yang
mengatakan,'Rabb kami ialah
Allah' ,kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan),
'janganlah kamu merasa takut dan
jangalah kamu merasa
sedih.Bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan oleh Allah
kepadamu' ,Kamilah pelindung -
pelindungmu dalam kehidupan
dunia dan akhirat; di dalamnya
kamu memperoleh apa yang kamu
inginkan dan memperoleh (pula di dalamnya apa yang kamu minta.
Sebagai hidangan (bagimu) dari
Rabb Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang" (Fushshilat [41] :
30-32 ) Bagi Ruh orang - orang fajir
dan kafir akan
disampaikan........."Kalau kamu
melihat ketika para malaikat
mencabut jiwa - jiwa orang yang
kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata),
'Rasakanlah olehmu siksa neraka
yang membakar ", (tentulah kamu
akan merasa ngeri). Demikian itu
disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali - kali tidak menganiaya
hamba-Nya..." (Al - Anfal [8] :
50-51 )
dicabut...........!!!!!!!! Bagi Ruh orang beriman akan
disampaikan......."Sesungguhnya
orang - orang yang
mengatakan,'Rabb kami ialah
Allah' ,kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka (dengan mengatakan),
'janganlah kamu merasa takut dan
jangalah kamu merasa
sedih.Bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan oleh Allah
kepadamu' ,Kamilah pelindung -
pelindungmu dalam kehidupan
dunia dan akhirat; di dalamnya
kamu memperoleh apa yang kamu
inginkan dan memperoleh (pula di dalamnya apa yang kamu minta.
Sebagai hidangan (bagimu) dari
Rabb Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang" (Fushshilat [41] :
30-32 ) Bagi Ruh orang - orang fajir
dan kafir akan
disampaikan........."Kalau kamu
melihat ketika para malaikat
mencabut jiwa - jiwa orang yang
kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata),
'Rasakanlah olehmu siksa neraka
yang membakar ", (tentulah kamu
akan merasa ngeri). Demikian itu
disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali - kali tidak menganiaya
hamba-Nya..." (Al - Anfal [8] :
50-51 )
Langganan:
Komentar (Atom)